Tampilkan postingan dengan label sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedekah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Agustus 2019

Apakah Sedekah Membuat Hartamu Berkurang?

Dalam prinsip keseharian kalangan umum, pengeluaran adalah kerugian. Jika pengeluaran tidak mendapat pemasukan yang lebih besar maka merugi. Tentu ini perhitungan bagi dunia perdagangan. Apakah perdagangan dengan Allah atau jual beli dengan Allah juga terdapat istilah merugi?
Harta yang berkurang karena sedekah sejatinya tidak merugi. Oleh Allah tentu akan dikembalikan, baik yang disegerakan di dunia atau ditunda di akhirat. Bisa juga diberikan di dunia dan di akhirat. Dan ini keutamaan dari Allah SWT.

Setan mengajak kepada mungkar. Selalu ingin menjauhkan manusia dari bersedekah. Berbuat baik dengan kemanfaatan harta. Baik secara pelan-pelan atau berhenti total. Baik sedekah dengan sebuah imbalan atau sedekah yang terpaksa. Bermain setan di arena tersebut. Sehingga pahala yang diharapkan dari Allah tidak didapat.
Allah SWT berfirman, “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS Al Baqarah 268).
Ayat di atas memberi gambaran jika setan dari kalangan manusia dan jin terus-menerus menebar was-was. Saat punya harta dihiasi dalam dada ketakutan akan berkurangnya sehingga memunculkan kebangkrutan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan“, maksudnya setan menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam harta dengan tangan kalian, sehingga takut berkurang dan tidak menginfakkan dalam keridaan Allah. Jika ada peminta-minta wajahnya merah padam. Ucapan dan sikapnya begitu kasar. Untuk keluar beberapa rupiah saja menjadi berat. Apalagi yang lebih besar. Selanjutnya muncul ucapan yang menyatakan ‘masih muda kok ngemis’.
Sedangkan ayat “Dan menyuruh kamu berbuat buruk“, maksudnya bersama larangannya kepada kalian dari berinfak karena takut miskin, takut bertambah susah, setan menyuruh kalian dengan kemaksiatan, perbuatan dosa, keharaman, dan menyalahi perintah Allah Ta’ala. Tangan bertambah kencang menggenggam efek sebuah ketakutan.
Sementara itu, menurut Al-Jazairi, ayat “Dan menyuruh kamu berbuat buruk” berarti setan menyeru kalian untuk mengerjakan perbuatan buruk, di antaranya bakhil dan kikir. Kedua sifat tersebut membawa kepada keburukan baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
Allah Ta’ala memperingatkan para hamba-Nya dari setan dan godaannya, lalu mengabarkan bahwa setan menjanjikan dengan kefakiran, menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan sehingga mereka tidak mengeluarkan zakat dan sedekah. (Sebaliknya) ia menyuruh mereka untuk berbuat buruk sehingga mengeluarkan harta mereka dalam keburukan dan kerusakan, serta bakhil mengeluarkannya untuk kebaikan dan kemaslahatan umum.

Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan mendatangkan keberkahan. Yakni menambah kebaikan dari harta itu dan berkembang menjadi banyak seperti dalam firman Allah SWT: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS Al Baqarah 276).
Makna ayat “Allah menyuburkan sedekah” adalah memperbanyak dan mengembangkannya di dunia. Sedangkan di akhirat, Allah menjaganya semenjak di keluarkan harta tersebut untuk infak. Penjagaan ini seperti seseorang menjaga benih yang ditanamnya dengan diperhatikan dan dipupuk sampai benih tersebut menjadi pohon yang besar. Atau seperti seseorang yang menjaga dan memelihara anak kuda yang masih kecil, ia beri makan dan ia rawat dengan baik sehingga menjadi kuda yang besar dan tangguh. Artinya pahala besar akan ia peroleh walaupun melalui infak yang sedikit.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta’ala berfirman: “Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku berinfak kepadamu” (HR Bukhari Muslim).
Maknanya adalah Aku beri ganti yang lebih baik untukmu. Ini selaras dengan firman Allah swt: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya” (QS Saba’ 39).

Ayat dan hadis di atas mengandung perintah untuk bersedekah dengan keutamaan. Allah langsung yang memberi balasan dengan kalimat “Aku berinfak kepadamu dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya”.
Bersedekah dalam kebaikan untuk sesama dan berinfak fisabilillah menjadi tanda kedalaman iman seseorang. Baik itu dalam taraf kecil maupun sudah besar. Lalu anjuran untuk bergembira dengan ganti dari kemurahan Allah Ta’ala. Bahwa sedekah dan infak termasuk sebab utama datangnya keberkahan dan dilipatgandakannya rezeki. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberi ganti dengan surga bagi siapa yang berinfak di jalan-Nya.
[deddy]

Boleh Sedekah Ketika Punya Utang, Tapi

Muamalah dalam ekonomi pasti memiliki utang. Kecil atau pun besar, utang wajib dikembalikan. Tidak boleh ada niat dalam hati untuk tidak membayar utang. Ancaman keras menanti.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Siapa yg membawa harta orang lain dan dia berniat untuk tidak mengembalikannya maka Allah akan menghilangkannya.”

Meskipun ada keterangan dari Imam Bukhari, ”Kecuali masih dalam batas normal, dilandasi bersabar, lebih mendahulukan orang lain dari pada dirinya, meskipun dia membutuhkannya. Seperti yang dilakukan Abu Bakar ketika beliau menyedekahkan hartanya atau perbuatan orang anshar yang lebih mendahulukan Muhajirin. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk menyia-nyiakan harta. Karena itu, tidak boleh menyia-nyiakan harta orang lain dengan alasan sedekah.”
Imam al-Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tidak ada satu amalan hamba untuk mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai dari pada melakukan amalan yang diwajibkan kepadanya.”

Imam An-Nawawi mengatakan, “Orang yang memiliki utang dianjurkan untuk tidak bersedekah sampai dia lunasi utangnya.”
Dikuatkan dalam sebuah kaidah fiqh, didahulukan yang wajib sebelum yang anjuran. Sehingga kewajiban jika selesai baru yang setelahnya digunakan. Utang menjadi tanggungan orang bernyawa maupun yang tidak bernyawa. Bisa saja ketika masih hidup bisa memberikan dampak tidak baik bagi ukhuwah.
Melunasi utang merupakan kewajiban yang harus segera diselesaikan. Menunda justru menjadikannya tercela. Bahkan berniat tidak membayar utang sudah mendapat celaan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Sedekah sendiri merupakan amalan yang mulia dan utama. Faedahnya begitu besar. Manfaat dapat terjadi jika mendapatkan prioritas. Bisa menjadi penyembuh hati, raga dan hubungan itu sendiri.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (QS al-Baqarah: 261)

Ganjaran yang berlipat. Keutamaan yang berlipat. Manfaat juga berlipat. Sedekah bisa membawa pada lembutnya hati.
Ayat di atas menggambarkan keutamaan sedekah. Yang menjadi pertanyaan, jika ada yang semangat sedekah dan dia seorang pengusaha atau pedagang yang secara umum bermodal dengan utang. Apakah pengusaha tersebut tetap tidak bisa bersedekah? Jika pengusaha tersebut dihadapkan secara tekstual dari larangan di atas, maka tidak mungkin dia akan bisa bersedekah.
Alasan pertama, utang dalam usaha tidak bisa dimasukkan dalam larangan bersedekah jika masih punya utang. Mengingat usaha tidak lepas daripada utang. Dan utang itu sebuah usaha agar usaha bisa berputar dan menjadi bagian yang melekat dari sebuah usaha atau bisnis.
Maka utang yang bersifat pribadi dan membelenggu yang dimasukkan dalam larangan tersebut. Orang yang sudah terjerat utang, maka kondisi sama seperti orang kelaparan yang butuh makan. Ketika punya makanan maka segera dimakan. Tidak perlu memikirkan orang lain sampai dirinya selamat.
Alasan kedua, orang yang berutang untuk usaha, bisa dikatakan ada uang yang berputar. Sehingga kemungkinan besar bisa mengembalikan utangnya. Dasar ini terletak pada individu sesuai keyakinan mampu bayar utang. Tidak bisa disamakan dengan yang lain.

Semoga bermanfaat.
[deddy]

Sedekah di Kala Susah

Sedekah dilakukan di semua kondisi. Bisa di kala senang maupun susah. Tentu akan berbeda nilainya jika bersedekah saat susah. Di mana dia membutuhkan uang untuk makan dan kebutuhan yang lain.
Sedekah tidak berhenti. Sedekah berlaku dalam setiap keadaan. Sedekah hanya dikapling untuk orang kaya. Miskin juga bisa sedekah. Susah juga bisa sedekah. Sehingga tidak ada alasan untuk berhenti dari sedekah kecuali orang bakhil.

Sebuah hadis tentang keutamaan dari bersedekah di saat kepepet. Dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Hubsyi Al Khots’ami, Nabi SAW pernah ditanya tentang sedekah yang paling afdhol dan beliau menjawab, ”Sedekah dari orang yang serba kekurangan.” (HR Nasai)
Saat serba kekurangan dan mau sedekah maka itu keimanan. Memberi dasar keimanan. Jika dengan sedekah itu dia ingin memberikan kemanfaatan kepada hamba yang lain. Maka tidak mungkin dilakukan kecuali dari keimanan itu sendiri.
Cerita orang kaya bersedekah tentu hal biasa. Dalam keadaan senang juga sudah biasa. Jika dalam keadaan miskin dia bersedekah dalam jumlah besar tentu luar biasa. Dalam keadaan susah dia bisa bersedekah tentu luar biasa.

Maka begitu fantastis jika seorang sedekah di kala dia sedang susah betul. Tukang becak, pemulung, pengemis sekalipun. Mereka yang dengan profesi penuh kekurangan masih mau kurban atau menyumbang pembangunan masjid.
Ada sebuah kisah jika Masjid Jogokaryan pernah disumbang oleh tukang becak dari BLT (Bantuan Langsung Tunai). Tukang becak tersebut butuh dengan uang tersebut. Namun, dia tetap bersedekah dan semua diberikan kepada masjid tersebut.
Ternyata keadaan yang serba kurang atau susah masih ada nilai kebaikannya. Baik dalam artian bisa memberi. Baik dalam artian bisa peduli dengan sesama. Baik dalam artian menguji seberapa kesadaran kita kepada Allah.
Allah SWT berfirman, ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, “Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al Ankabut: 2-3)
Tidak gratis menyebut diri beriman, jika tidak diuji keimanan tersebut. Tanda keimanan orang yang susah bisa juga dari masih mau sedekah apa tidak. Jika berhenti maka sampai segitu saja keimanannya.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, ”Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham.” Lalu ada yang bertanya, ”Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, ”Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR An Nasai dan Ahmad).
Gambaran pada hadis di atas begitu gamblang. Semakin sempit keadaan dan terus memberi semakin bernilai di mata Allah. Maka satu dirham bisa mengalahkan seratus dirham.
Orang yang serba kekurangan kondisi sudah sempit. Namun, keluasan jiwanya tetap menuntut dirinya untuk berbagi kepada sesama. Memandang bahwa masih ada orang selain dirinya yang lebih membutuhkan daripada dirinya. Apa yang dimiliki dirasakan bahwa orang lain lebih butuh.
[deddy]

Ini Alasan Sedekah Tidak Boleh Ditunda

Menunda amalan baik, seringkali justru membuat seseorang lalai ketimbang melakukannya. Terlebih jika sudah tertumpuk dengan berbagai kesibukan dan kegiatan lainnya.
Dalam niatan sedekah misalnya, ketika memilih menundanya, potensi besar yang kemungkinan terjadi adalah terlupa dan akhirnya tidak jadi melaksanakannya. Padahal, sedekah memiliki dampak luar biasa yang membuat amalan yang satu ini tidak boleh ditunda untuk dilakukan. Lalu apa sajakah yang didapatkan dari sedekah sehingga sedekah menjadi amalan yang harus disegerakan dan tidak boleh ditunda?

Menyembuhkan Penyakit
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah, dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR Ath-Thabrani).
Di hadist lain, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’).
Ada juga sebuah kisah dalam Shahih At Targhib, Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat, ia telah bertanya kepada para dokter, namun tidak menghasilkan apa-apa.

Ibnu al-Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergi dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh.”
Cobalah bersedekah dengan niat minta disembuhkan dari penyakit, sesungguhnya Allah Maha Pemberi Kesembuhan.
Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan Prof. David M. Clelland, ditemukan hasil bahwa dengan melakukan sesuatu yang positif untuk orang lain seperti bersedekah akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menyebabkan tubuh lebih kuat menghadapi penyakit. Maka, perbanyaklah bersedekah untuk menyehatkan diri kita!

Memberi Rasa Bahagia
Ada pertanyaan tentang siapa yang lebih bahagia? Orang yang menerima sedekah, atau justru yang memberi sedekah?
Berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Public Health pada 2013, ditemukan bahwa orang yang membantu orang lain dapat lebih terlindungi dari dampak negatif stres, lho. Selain itu, dalam bukunya, Allan Luks mengatakan bahwa dengan menolong orang lain akan meringankan rasa sakit kita sendiri, mengurangi stres, dan memberi rasa bahagia.
Dengan memberikan bantuan secara sukarela akan meningkatkan produksi hormon endorfin, hal itu baik untuk kesehatan jiwa kita. Penelitian yang dilakukan Allan Luks ini melibatkan 3000 sukarelawan, dan 90%-nya merasakan betul manfaat berbagi dengan orang lain.

Memperpanjang Usia dan Meringankan Sakaratul Maut
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah dari seorang muslim menigkatkan (hartanya) di masa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (sakratul maut), dan melaluinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal. 97).

Mendekatkan pada Terkabulnya Hajat
“Barang siapa berniat sedekah, kecepatan Allah membalasnya lebih dari kecepatan gerakan sedekahnya.” (Hadist Qudsi).

Menolak Bencana
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan, “Sesungguhnya sedekah bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zalim, atau bahkan orang kafir, karena Allah subhanahu wa ta’ala akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantara sedekah tersebut….”
Dalam hadistnya, Rasulullah juga memberitakan kabar gembira ini, “Bersegeralah bersedekah, sebab, musibah dan bencana tidak bisa mendahului sedekah.”

Menambah Rezeki
Rasulullah pernah bersabda, “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR Al-Baihaqi). Kemudian, dalam salah satu hadist Qudsi, Allah berfirman, “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR Muslim).

Dalam hadist lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfak.” Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata, “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (HR Bukhari dan Muslim).

Mendapat Naungan di Hari Kiamat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR Ahmad).
Kemudian, hadist yang diriwayatkan oleh dari Uqbah bin Amir ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Setiap individu berada dalam naungan sedekahnya sampai dia diadili di antara manusia.’ Kemudian ia berkata, ‘Nabi pernah menyebutkan bahwa tujuh hal yang akan menjadi payung yang menaungi pada hari kiamat antara lain seseorang yang bersedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya.’” (HR Bukhari).
[deddy]

Selasa, 20 Agustus 2019

Tak Hanya Menambah Rezeki, Sedekah Bisa Sembuhkan Penyakit

Selama ini, kita sering mendengar bahwa bersedekah bisa menambah rezeki. Hal itu benar. Namun tidak hanya itu, sedekah juga bisa menyembuhkan penyakit, memberi rasa bahagia, bahkan memudahkan kita saat sakaratul maut.
Memberi seringkali diartikan dengan kegiatan yang dilakukan oleh orang mampu kepada orang yang kurang dalam kekuatan finansial. Padahal, Allah ta’ala meminta kita bersedekah dalam keadaan lapang maupun sempit. Karena efek sedekah akan kembali kepada pelakunya.

  1. Menyembuhkan Penyakit
    Benarkah sedekah dapat menyembuhkan diri kita dari penyakit? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR Thabrani).
    Kemudian manfaat sedekah sebagai penyembuh rasa sakit juga tertulis dalam hadits riwayat Abu Dawud, “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.”

  2. Sedekah, Beri Rasa Bahagia
    Tak hanya memberi rasa bahagia bagi penerima sedekah saja, sedekah juga tentunya memberi rasa bahagia pada hati pemberinya. Karena secara tak langsung telah membantu seseorang yang membutuhkan.
    Berdasarkan studi yang diterbitkan American Journal of Public Health pada tahun 2013, ditemukan fakta bahwa orang yang gemar membantu orang lain dapat pebih terlindungi dari dampak negatif stress. Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Allan Lukas, bahwa sedekah secara ikhlas akan meningkatkan hormon endorfin yang akan banyak manfaatnya bagi kesehatan.

  3. Memperpanjang Usia dan Mudahkan Sakaratul Maut
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah dari seorang muslim, akan meningkatkan hartanya dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (sakaratul maut) dan melalui sedekah Allah menghilangkan perasaan sombing dan egois (Fiqh Sunnah, Vol 3 : 97).

  4. Menambah Rezeki
    Sudah bukan rahasia lagi bahwa konsep memberi dalam Islam bukanlah mengurangi. Namun, konsep memberi dalam Islam adalah justru menambahi. Rasulullah bersabda, “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu dari Allah dengan mengeluarkan sedekah.”
    Kemudian, setelah turun perintah tersebut, Allah berfirman, “Hai anak adam, infakkanlah dan sedekahkanlah hartamu, niscaya aku akan memberikan nafkah kepadamu.” (HR Muslim)

  5. Sedekah Penyebab Terkabulnya Hajat
    Ternyata, sedekah juga membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan terkabulnya hajat yang diinginkan. Allah bersabda, “Barang siapa berniat sedekah, kecepatan Allah membayarnya lebih dari kecepatan gerakan sedekahnya.”(Hadits Qudsi). Yang dimaksud Allah akan membalas lebih cepat adalah juga dalam hal terkabulnya hajat.

Nah, begitu banyak manfaat sedekah yang dapat dirasakan dari segi ruh maupun jasmani. Masihkah ragu untuk bersedekah, berzakat dan berinfaq?
[deddy]

Membuka Pintu Rezeki dengan Bersedekah

Sedekah merupakan salah satu cara pembuka pintu rezeki yang terbuka luas tanpa harus berpeluh keringat. Dengan bersedekah, terbentuklah rumus memberi bukan berarti mengurangi. Namun rumus yang sesungguhnya adalah memberi sama dengan menambah rezeki. Bagaimana bisa?
Allah subhanahu wa ta’ala sudah menjanjikan bahwa setiap umatnya yang berinfaq maupun bersedekah di jalan Allah ta’ala, tak akan pernah merasa berkurang hartanya, malah Allah akan menggantinya berkali-kali lipat dari yang ia keluarkan.

Allah berfirman, “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (Saba’/34 : 39).
Kemudian, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepadanya, “Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman, ‘Wahai anak Adam!’ berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberik rizki) kepadamu.”
Betapa besar jaminan orang yang berinfak di jalan Allah. Betapa mudah dan gampang jalan mendapatkan rizki. Seorang hamba berinfak di jalan Allah, lalu Dzat Yang di tanganNya kepemilikan segala sesuatu memberikan infak (rizki) kepada seorang hamba.

Jika seorang hamba berinfak sesuai dengan kemampuanya, maka Dzat Yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi serta kerajaan segala sesuatu akan memberi infak (rizki) kepadanya sesuai dengan keagungan, kemuliaan dan kekuasanNya.
Tak hanya itu, selain janji Allah tentang harta yang diganti apabila diinfaqkan, di balik amalan infaq Allah pun menyisipkan banyak keutamaan di dalamnya.
Keutamaan itu antara lain, mudah masuk ke dalam surga. Firman Allah, dan bersegeralah kamu pada ampunan dari Tuhanmu dan pada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang diediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan harta mereka baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang menahan amarah mereka dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran [3]: 133-134)

Disediakan Pintu Surga Khusus
Sesunguhnya begitu banyak pintu surga yang Allah bukakan berdasarkan amalan-amalan yang biasa ia upayakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, siapa yang ahli sedekah, dia akan dipanggil (masuk surga) dari pintu sedekah. (Shahih Bukhari, 2/1798)
Bersedekah akan menghapus dosa-dosa dan terjaga dari api neraka. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda, “Sedekah menghapus dosa, seperti air memadamkan api.” (Tirmidzi, 2/4210). Berinfaq juga akan menjauhkan pelakunya dari api neraka. Nabi bersabda, “Jauhilah api neraka, meskipun hanya dengan sebutir kurma.” (Shahih Bukhari, 2/1351 ‘ Muslim, 2/1016).

Sedekah Bisa Mengobati dan Melembutkan Hati yang Keras
Kata Abu Hurairah, ada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan hatinya yang keras. Beliau bersabda, “Jika engkau ingin melembutkan hati engkau, maka berilah makan kepada orang miskin, dan usaplah (dengan lemah-lembut dan kasih sayang) kepada anak yatim.” (Ahmad, 2/7566).
[deddy]

Selasa, 24 April 2018

5 Penghambat Aliran Rezeki

penghalang rezeki, penghambat rezeki, membuka pintu rezeki

Tidak sia-sia rasanya saya mbelani berkantuk-kantuk ria disertai sergapan dinginnya udara malam di Pacet. Apalagi saya lupa membawa jaket atau semi jas untuk sekedar menghangatkan diri. Yah, tuntan hidup sebagai pengganti ayah, kudu siap kapanpun diminta untuk menyetir mobil kemanapun ortu pergi.

Kepergian saya ke Pacet kali ini bukan untuk rekreasi, melainkan ke Pondok Pesantren tempat Wulan, adik saya, di godok dan dicetak menjadi pribadi unggul yang berprestasi. Kebetulan seluruh wali murid murid santri diundang untuk wisudaan + pengambilan raport. Bukan Wulan saya yang diwisuda melainkan anak-anak MTs-nya. Jadi kedatangan kami cuma untuk ambil raport saja.

Tadinya saya pikir bisa ambil raport terus ijin pulang duluan. Ternyata tidak. Pembagian raport ditaruh di akhir acara (sekitar jam 11.30 malam). Wah, repot ini pikir saya. Jatah tidur tadi siang rasanya hanya cukup untuk mengcover rasa kantuk sampai jam 10 saja. Akhirnya demi ibu (ayah ngga ikut), saya cari warung di sekitar sana dan memaksakan diri ngopi 2 gelas (addict, hehehe…). Setelah ngopi 2 gelas + nge-mie 2 porsi (kejangkit laper gara-gara udara dingin), ngga terasa udah jam sepuluh. Saya balik ke tempat acara. Ternyata acaranya bertepatan dengan waktunya ceramah agama.

Tidak seperti ceramah agama yang biasa dibawakan dengan membosankan, Al Ustadz Syekh Ali benar-benar luar biasa dalam membawakan tausiah malam ini. Ilmu komunikasi yang dimiliki benar-benar keren disamping memang pembawaannya yang humoris. Namun demikian hal tersebut tidak mengurangi kewibawaan beliau sebagai seorang Kiai yang cukup disegani. Materi tausiahnya cukup bagus, yaitu 5 Penghambat Aliran Rezeki. Dan karena bermanfaat saya sharingkan resumenya untuk Anda semua.

space

5 Penghambat Aliran Rezeki

Sesungguhnya pada diri setiap manusia, telah ditetapkan bagi mereka rezekinya sejak roh ditiupkan pertama kali ke dalam kandungan ibu. Bermacam-macam tingkatan rezeki setiap manusia. Namun demikian, bukan berarti tidak bisa berubah karena walau bagaimanapun itu adalah hak prerogatif Allah SWT.

Rezeki yang dituliskan tersebut bisa diibaratkan 1 botol aqua yang penuh berisi air. Ketika itu habis maka habislah usia manusia hidup di dunia ini. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa rezeki telah ditetapkan, hanya tinggal bagaimana cara kita meraihnya. Anda mau meraihnya dengan jalan halal penuh berkah, ataupun dengan jalan haram yang pasti sudah ada jaminan rezeki untuk kita semua. Maka tidak salah jika AA Gym, Ust. Mansur, dll, lebih suka mengatakan menjemput rezeki daripada mencari rezeki.

Beberapa dari kita mungkin meras, kok ya rezeki saya rasanya seret banget. Usaha ini itu, tidak juga membuahkan hasil Pokoknya serba sulit deh. Jika itu terjadi, maka kita perlu introspeksi diri. Jangan-jangan ada hal-hal yang membuat rezeki kita ditahan oleh Allah hingga sampai akhir hayat pun kita hidup berkesusahan. Nah, ada 5 hal yang menjadi penghambat rezeki kita yaitu ….

1. Hilangnya Rasa Tawakkal Kepada Allah

Kadangkala ketika rezeki kita mulai mengalir, ada rasa bangga dalam diri. Seolah-olah kita merasa bahwa ini semua adalah hasil dari kerja keras dan semangat pantang menyerah yang ada dalam diri kita. Kita merasa super hebat dan luar biasa. Kita lupa bahwa kesemuanya itu tidak terlepas dari faktor “x” yaitu Maha Pemurah dan Pengasihnya Allah.

Ketika itu terjadi, maka bersiaplah karena itu adalah titik balik dari tanjakan kesuksesan kita. Dan itulah titik balik dimana kita bukannya naik malah terus meluncur ke bawah. Bukankah Allah sudah berfirman “… Aku adalah seperti prasangka hambaku…”. Maka, pada saat kita berpongah-pongah ria dan lupa kepadaNya, maka Dia akan menganggap kita tidak membutuhkannya lagi. Disaat itulah Allah berpaling dari kita dan mencabut faktor “x” yang sebetulnya banyak mendominasi keberhasilan usaha kita.

2. Terlalu Banyak Dosa

Terlalu banyak dosa akan membuat hati kita tertutup debu. Memupuskan setiap doa yang dipanjatkan ke langit. Bahkan ada seorang Syekh terkenal yang mengatakan bahwa penutup dari pintu rezeki adalah dosa yang terlampau banyak. Sedangkan pembukanya adalah taubat. Jadi kalau Anda merasa rezeki seret, cobalah bercermin dosa apa saja yang sudah Anda perbuat selama ini.

Allah itu adil. Siapa yang berusaha maka pasti akan diberikan hasil. Ada hukum tanam benih tuai hasil. Selama kita usaha, ada hasil dibalik semua itu. Kalau kita tekun pasti berhasil. Tapi kalau tidak berhasil, dosa apa coba yang ada dalam diri kita. Jadi segeralah bertaubat. Saya pikir itu wajar dan bisa dianalogikan dengan mudah. Bayangkan saja Anda adalah karyawan di sebuah perusahaan. Kira-kira kalau perilaku Anda tidak baik, kerjaan ngga pernah beres, mudah dapet promosi kenaikan jabatan ngga? Kira-kira atasan melirik Anda ngga ntuk dinaikkan jabatannya? Apalagi Allah yang punya kuasa menaik turunkan rezeki dan kedudukan kita.

3. Berbuat Maksiat dalam Mencari Nafkah

Jaman sekarang jujur itu susah, orang yang ngga jujur aja kadang masih susah dapet duit. Akhirnya mark up sana mark up sini. Demi mencari uang melimpah. Sikut sana sikut sini, kalau perlu pakai dukun atau sewa orang untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Ini terang-terangan membuat rezeki kita ditahan oleh Allah. Andaikata kita merasa dapat banyak duit itu semua tidak berkah. Dan ciri-ciri harta yang tidak berkah diantaranya :

  • Sering dibelanjakan untuk hal yang sifatnya sia-sia belaka. Tidak banyak mendatangkan manfaat, baik dirinya maupun orang lain dan lingkungan sekitarnya.
  • Sering dilanda penyakit, baik itu penyakit lahir maupun penyakit batin (iri, dengki, dll)
  • Sulit sekali hatinya tergerak untuk membelanjakan harta berlebih tersebut di jalan Allah. Padahal di setiap harta kita, ada hak orang lain yang mesti diberikan.

4. Dalam Bekerja Sering Melupakan Allah

Ciri-ciri paling mudah ditemui adalah meremehkan Shalat. Ketika kita benar-benar sibuk dan tiba waktunya shalat, kita cenderung menunda-nunda. Lebih penting kerjaan daripada shalat. Bahkan yang kebangetan, sampai ngga shalat gara-gara kerjaan. Atau bisa juga berupa ketidakjujuran dalam berbisnis. Kita menganggap tidak ada yang tahu kebohongan kita. Itu artinya, kita sudah melupakan Allah yang selalu mengamati dan mengetahui setiap tindakan kita. Kalau Anda luoa padanya, Dia pun dengan mudah melupakan Anda.

5. Enggan Bershodaqoh

Shodaqoh itu memiliki beberapa kelebihan jika dilakukan dengan ikhlas.

  • Menolak “bala” yang datang kepada kita, entah itu berupa penyakit, musibah, ataupun hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Kalaupun terpaksa terjadi (karena kehendak Allah), maka skalanya akan menjadi lebih kecil untuk kita.
  • Pupuk Kebaikan. Maksudnya dengan kita rajin bershodaqoh, sama artinya kita menebar pupuk-pupuk kebaikan. Ini nantinya akan menyuburkan pohon kebaikan dan berujung pada hak kita untuk memetik buah kebaikan itu sendiri. Bukankah sudah janji Allah bahwa setiap kita bershodaqoh dengan ikhlas, Alah akan melipatgandakan gantinya untuk kita. Cobalah dan buktikan sendiri.
  • Menjadi pelicin turunnya rezeki. Sudah banyak orang sukses yang merumuskan teori “Makin banyak memberi, makin banyak menerima”. Keluarkan sebagian harta Anda untuk shodaqoh dan tunggulah, sesungguhnya akan datang lebih banyak ganti yang dibarikan oleh Allah. Itulah mengapa orang-orang sukses kelas dunia (Donald Trump, Warren Buffet, Bill Gates, dll) berlomba-lomba menyumbangkan sebagian harta ataupun penghasilan dari bisnisnya untuk kegiatan sosial. Dan Anda lihat, bukannya bangkrut, malah bisnis mereka semakin besar.